Langsung ke konten utama

Broken Home (By Chelsea Venicea)






Pagi yang cerah. Seorang gadis kecil yang harusnya bermain bersama teman-temannya ini hanya dirumah mendengarkan kedua orang tuanya bertengkar. Gadis itu bernama Celestial. Saat ia beranjak dewasa Celestial hanya mengurung diri di kamarnya. Celestial keluar kamar hanya untuk makan lalu setelah makan ia kembali masuk kekamarnya lagi. Di dalam kamar ia hanya belajar, menonton film, dan lain-lain. Celestial berumur 14 tahun dan ia menduduki kelas 2 SMP. orang tuanya yang bekerja sampai larut malam dan sama sekali tidak ada waktu untuk berbicara dan bercerita dengan anaknya sendiri. Celestial berangkat dan pulang sekolah menggunakan sepedanya. Dan hari pun tiba, Celestial dan ia langsung memasuki kamarnya seperti biasa. Orang tuanya yang baru pulang kerja kembali bertengkar kembali hingga mereka memutuskan untuk pisah rumah. Celestial yang mendengar pertengkaran orang tuanya semakin muak hingga ia memutuskan b*n#h diri saat itu juga. Celestial naik ke balkon kamarnya dan ia pun melompat lalu ia pun mendarat di tanah. Orang tuanya yang mendengar suara jatuh mereka pun menghampiri asa; suara tersebut. Betapa terkejut dan menyesalnya mereka, putri semata wayangnya telah meninggal dunia. 


                                                                                                                                                            -TAMAT

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Badai yang Reda karya Fauzia. A

  Puluhan layang-layang yang berada di atas kepalaku terlihat seperti rangkaian burung yang sedang bermigrasi. Angin pantai yang berhembus kencang membuat mereka terbang lebih jauh dan tinggi, tapi tetap di bawah kendali kekangan tali kenur. Aku ingin seperti layang-layang. Walau beberapa orang yang kukenal mengatakan, hidup seperti layang-layang tidak sepenuhnya bebas. Sekilas terlihat bebas, tapi sebuah tali tipis namun kuat mengaturnya. Tapi aku tetap ingin menjadi layang-layang yang terbang tinggi di langit Pangandaran yang cerah ini. Aku melihat sekeliling, pertengahan bulan Juli memang puncak liburan di mana-mana. Banyak wisatawan asing yang sedang bermain di Pantai Selatan ini. Entah itu bermain layang-layang atau hanya sekadar duduk-duduk menikmati pemandangan Pantai Pangandaran yang cerah ini. Aku sendiri sedang duduk di depan kios Uwak Imas yang berjualan pakaian. Bau amis khas laut (dan juga karena pabrik ikan asin yang tidak jauh dari tempatku sekarang) sudah menjadi ud...

Laut Marah karya Widya Suwarna

Sudah empat hari nelayan-nelayan tak bisa turun ke laut. Pada malam hari, hujan lebat turun. Gemuruh gelombang, tiupan angin kencang di kegelapan malam seolah-olah memberi tanda bahwa alam sedang murka, laut sedang marah. Bahkan, bintang-bintang pun seolah tak berani menampakkan diri. Nelayan-nelayan miskin yang menggantungkan rezekinya pada laut setiap hari bersusah hati. Ibu-ibu nelayan terpaksa merelakan menjual emas simpanannya yang hanya satu dua gram untuk membeli kebutuhan sehari-hari. Mereka yang tak punya benda berharga terpaksa meminjam pada lintah darat. Namun, selama hari-hari sulit itu, ada pesta di rumah Pak Yus. Tak ada yang menikah, tak ada yang ulang tahun, dan Pak Yus juga bukan orang kaya. Pak Yus hanyalah nelayan biasa, seperti para tetangganya. Pada hari-hari sulit itu, Pak Yus menyuruh istrinya memasak nasi dan beberapa macam lauk-pauk banyak-banyak. Lalu, ia mengundang anak-anak tetangga yang berkekurangan untuk makan di rumahnya. Dengan demikian rengek tangis an...

persahabatan by A.A arthur

Saat ini aku berada di kelas 3 SMP, setiap hari kujalani bersama dengan ketiga sahabatku yaitu Aris, Andri, dan Ana. Kita berempat sudah bersahabat sejak kecil. Suatu saat kami menulis surat perjanjian persahabatan di sobekan kertas yang dimasukkan ke dalam sebuah botol, kemudian botol tersebut dikubur di bawah pohon yang nantinya surat tersebut akan kami buka saat kami menerima hasil ujian kelulusan. Hari yang kami berempat tunggu akhirnya tiba, kami pun menerima hasil ujian dan hasilnya kita berempat lulus semua. Kami serentak langsung pergi berlari ke bawah pohon yang pernah kami datangi dan menggali tepat di mana botol yang dahulu dikubur berada. Kemudian, kami berempat membuka botol tersebut dan membaca tulisan yang dulu pernah kami tulis. Kertas tersebut bertuliskan “Kami berjanji akan selalu bersama untuk selamanya.” Keesokan hari, Aris berencana untuk merayakan kelulusan kami berempat. Malamnya kami berempat pergi bersama ke suatu tempat dan disitulah saat-saat yang tidak bisa ...